Buku ini kami awali dengan kajian untuk memahami pendidikan karakter yang mengkaji secara khusus mengapa pendidikan karakter perlu untuk membangun dan mengeluarkan bangsa ini dari krisis karakter, tujuan pendidikan karakter, berbagai karakter yang perlu bagi bangsa Indonesia saat ini.
Perkembangan sikap dan perilaku yang berkaitan erat dengan dimensi-dimensi tersebut perlu dipahami secara dini agar dapat dipersiapkan berbagai upaya yang memfasilitasinya atau iklim lingkungan belajar yang sehat dan kondusif.
Buku ini memberikan gambaran yang gamblang tentang apa yang sedang terjadi di bidang pendidikan di seluruh dunia. ditelusurinya hubungan antara perkembangan ekonomi dangan perkembangan ilmu pengetahuan yang menunjukan betapa teknik dan isi pendidikan di dalam negara tertentu erat hubunganya dengan keadaan sosial ekonomi negara tersebut.
Kebijakan Pendidikan Nasional, Pendidikan katolik, dan spritual Pendiri merupakan tiga ha; penting yang harus dipandang secara intergral sehinggah satu sama lain tidak boleh saling meniadakan atau menggeser.
Buku guru katolik ini memuat dinamika tugas dan panggilan seorang guru. beberapa tulisan menjadi semacam puzzle yang memotret situasi guru yang perlu terus mengembangkan diri di tengah-tengah perjumpaan dengan para murid , pihak sekolah, orang tua muris, dan masyarakat.
Salah satu pemikiran cerdas dan bijak, tentang kajian '' karakter '' ini adalah adanya sosok Dra. Hj. Aisah M. Ali, M.Pd. yang menawarkan fakat, data konsep, teori hinggah tentang '' karakter '' : konsep dan implementasinya.
Pengetahuan tentang proses pembentukan karakter dalam diri individu menegaskanbahwa individu akan sangat bertumbuh berada dalamlingkungan pendidikan yang nyaman dan aman, dimana masing-masing individu di lingkungan tersebut, mampu saling merawat.
Dalam implementasinya, kementrian pendidikan dan kebudayaan, menetapkan tiga pendekatan, penguatan pendidikan karakter, yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, budaya sekolah, dan masyarakat ( keluarga ) ataukomunitas.
Cukup banyak guru yang memperiapkan diri dan pelajaran dengan sangat baik, tetapi tak jarang ada yang hanya seperti mesin dalammengajar, guru ini dikendalikan oleh buku dan jam pelajaran, tidak pernah mengadakan komunikasi informasi dan mentransfernilai-nilai.